Kalau kita membahas soal praktikum di sekolah atau kampus, biasanya perhatian langsung tertuju pada guru atau dosen yang memimpin kegiatan. Padahal, ada satu peran penting yang sering luput dari sorotan, yaitu laboran. Mereka bekerja jauh sebelum praktikum dimulai, memastikan alat dalam kondisi baik, bahan tidak kadaluarsa, serta lingkungan laboratorium aman digunakan. Bahkan sering kali merekalah yang pertama kali masuk dan terakhir meninggalkan laboratorium. Tanpa kehadiran mereka, kegiatan praktikum bisa tertunda, berantakan, atau bahkan membahayakan siswa. Dengan tanggung jawab sebesar itu, sudah sepantasnya peran laboran tidak hanya dianggap sebagai pendukung teknis, tetapi sebagai bagian vital dari sistem pembelajaran. Karena itulah, sertifikasi profesional bukanlah bentuk penghargaan berlebihan, melainkan pengakuan yang seharusnya memang sudah diberikan sejak lama.
Sertifikasi juga tidak sekadar soal gelar atau formalitas semata. Di dalamnya terdapat proses pelatihan, penilaian kompetensi, dan pembekalan standar kerja yang diakui secara profesional. Laboran yang tersertifikasi memahami bukan hanya cara menggunakan alat, tetapi juga prosedur keselamatan, penanganan bahan risiko tinggi, hingga langkah pertolongan pertama jika terjadi insiden. Pengetahuan seperti ini sangat penting, terutama ketika praktikum melibatkan bahan kimia, listrik, atau peralatan bertekanan tinggi. Praktikum yang baik tidak cukup hanya memberi kesempatan siswa “mencoba sesuatu”, tetapi harus memastikan setiap kegiatan berjalan dengan prosedur yang benar dan aman. Dengan adanya standar yang seragam, laboran tidak lagi bekerja hanya berdasarkan kebiasaan atau instruksi lisan, tetapi berpegang pada pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan institusional.
Jika laboratorium dianggap sebagai ruang belajar yang serius, maka orang yang mengelolanya pun harus ditempatkan pada posisi yang serius. Selama laboran hanya diposisikan sebagai “pembantu guru”, potensi mereka akan terus terabaikan. Padahal kenyataannya, banyak guru mengandalkan pengetahuan teknis dan pengalaman laboran untuk memastikan praktikum berjalan efektif. Dengan sertifikasi, posisi laboran berubah menjadi mitra profesional dalam proses pembelajaran. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh mereka secara individu, tetapi juga oleh guru yang terbantu, institusi yang terlihat lebih kredibel, dan terutama siswa yang mendapatkan pengalaman belajar yang lebih berkualitas. Praktikum menjadi lebih terarah, lebih aman, dan lebih bermakna. Pada akhirnya, sertifikasi bukan hanya soal peningkatan status, tetapi tentang membangun ekosistem pendidikan yang benar-benar menghargai kompetensi dan keselamatan kerja


Leave a Reply